MANADO, MSN
Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) kembali menggelar kuliah umum bertema kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah dinamika geopolitik dunia. Acara yang berlangsung di Auditorium Prof. Soemitro Unsrat, Kamis (11/6/2026), menghadirkan Gubernur Akademi Militer (Akmil) Mayjen TNI Rano Tilaar sebagai narasumber utama, serta turut mengundang Ketua Majelis Keluarga Besar Permesta, Philip Pantouw.
Dalam sambutannya, Rektor Unsrat Prof. Dr. Ir. Oktovian Berty Alexander Sompie, M.Eng., IPU, ASEAN Eng mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Mayjen TNI Rano Tilaar yang berkenan berbagi wawasan kepada generasi muda. Rektor menegaskan bahwa di tengah perubahan geopolitik yang cepat, persaingan ekonomi global, perkembangan teknologi, serta dinamika ketahanan pangan dan energi, setiap bangsa membutuhkan ketahanan nasional yang kuat.
“Indonesia harus mampu memanfaatkan potensi sumber daya manusia, kekayaan alam, dan persatuan nasional sebagai modal utama pembangunan,” ujar Rektor.
Ia menyoroti program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yakni pembangunan sumber daya manusia melalui program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi unggul, sehat, dan produktif. Selain itu, penguatan ekonomi kerakyatan melalui Program Koperasi Merah Putih juga diharapkan mampu memperkuat daya tahan masyarakat menghadapi tantangan global.
Sebagai perguruan tinggi di kawasan strategis Pasifik, Rektor menekankan tanggung jawab Unsrat untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berwawasan kebangsaan, berintegritas, berjiwa kepemimpinan, dan adaptif terhadap perubahan global. Ia mengajak seluruh mahasiswa yang hadir untuk memanfaatkan kuliah umum ini sebaik-baiknya sebagai bekal menjadi pemimpin bangsa di masa depan.
Dalam pemaparannya, Mayjen TNI Rano Tilaar mengawali dengan cerita tentang masa lalu ketika Kabupaten Gorontalo masih bagian dari Sulawesi Utara. Saat itu, tingkat pendidikan di daerah berbeda-beda, sehingga diperlukan penyatuan persepsi dan penambahan ilmu pengetahuan, terutama matematika, agar saat mengikuti tes di Magelang, tidak ada lagi anggapan bahwa pendidikan di Sulawesi Utara tertinggal.
Ia mengucapkan terima kasih kepada Unsrat karena turut berperan dalam pendidikannya. “Kalau saya bisa berdiri saat ini menjadi seperti ini, itu juga karena Universitas Sam Ratulangi,” ujarnya.
Lulusan Akademi Militer tahun 1993 ini mengaku hampir 20 tahun bertugas di Satuan Baret Merah (Kopassus), sejak pangkat letnan dua hingga letnan kolonel senior. Ia juga pernah bertugas di Jayapura selama 1 tahun 4 bulan, kemudian menjadi Kepala Staf Korem di AB Pura, sebelum berkarier di dunia intelijen, tepatnya di Badan Intelijen Strategis TNI.
Saat menjabat Komandan Korem di Kota Solo, ia mengalami masa Pilkada ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka maju sebagai calon Wali Kota Surakarta. Setelah itu, ia dipromosikan dengan pangkat bintang satu menjadi Komandan Korem di Jakarta, yang wilayahnya mencakup kawasan PIK, Alam Sutra, Lipo Cikarang, Lipo Karawaci, BSD, serta Kabupaten Kepulauan Seribu. Menurutnya, Bupati Kepulauan Seribu memiliki mobilitas dinas yang unik, yaitu menggunakan yacht atau perahu yang disulap menjadi kantor.
Kariernya berlanjut sebagai Wakapuspen, Kepala Staf Garnisun Tetap I DKI Jakarta yang bertanggung jawab atas ring 1 Istana Negara, kemudian mengikuti pendidikan di Lemhannas, menjadi dosen Lemhannas, hingga akhirnya pada Juli 2025 menjabat sebagai Gubernur Akademi Militer hingga sekarang.
Gubernur Akmil kemudian menjelaskan konsep geopolitik sebagai gabungan dari dua istilah: geografi (letak strategis bangsa) dan politik (kepentingan). Ia menegaskan bahwa dalam politik, tidak ada musuh atau kawan yang kekal, yang ada hanyalah kepentingan yang kekal.
Ia mengutip semboyan Latin Si vis pacem para bellum yang artinya “jika ingin damai, siapkanlah perang”. Menurutnya, jika ingin berdamai tetapi tidak siap berperang, maka perdamaian akan diterima dengan syarat-syarat yang ditentukan musuh.
Selain itu, ia menyampaikan pemikiran filsuf Yunani Thucydides: “Yang kuat melakukan apa yang harus mereka lakukan, dan yang lemah tinggal menerima apa yang harus mereka terima.” Dua terminologi ini, kata dia, akan semakin dipahami ketika pembahasan geopolitik berlanjut.
Kuliah umum berlangsung khidmat dan diharapkan mampu memperkuat pemahaman mahasiswa tentang persatuan, kedaulatan, dan kepentingan nasional di tengah dinamika dunia yang terus berubah. (sonny dinar)













