MANADO, MSN
Presiden Joko Widodo telah menyetujui penambahan lahan pertanian untuk 301 keluarga pengungsi dari Pulau Ruang, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), yang terdampak oleh erupsi Gunung Ruang. Setiap kepala keluarga akan menerima satu hektar lahan perkebunan sebagai bagian dari upaya relokasi dan pemulihan ekonomi.
Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey, mengusulkan penambahan lahan ini melalui video konferensi pada tanggal 3 Mei 2024, menjelaskan bahwa dua desa di Pulau Ruang, Laing Patehi dan Pumpente, telah hancur akibat erupsi yang terjadi pada 17 April dan 30 April 2024. Kedua desa tersebut kini dianggap tidak layak huni karena letaknya yang berada tepat di bawah Gunung Ruang.
Jokowi, tanpa ragu, menyetujui usulan tersebut, menyatakan bahwa lahan tambahan adalah kebutuhan dasar untuk memulihkan kehidupan warga. “Saya setuju dengan usulan Gubernur untuk penambahan lahan pertanian atau perkebunan. Ini sangat penting untuk kegiatan dan pekerjaan mereka,” ujar Jokowi.
Pada hari yang sama, Olly bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Utara meninjau posko terpadu di Desa Apeng Sala, Kecamatan Tagulandang, tempat 156 jiwa dari Pulau Ruang masih bertahan.
Olly menjanjikan kepada pengungsi bahwa pemerintah akan mengusulkan lahan pertanian di lokasi relokasi. “Siapa tahu pemerintah setuju, kalian bisa mendapatkan tanah untuk berkebun,” katanya kepada pengungsi.
Lokasi relokasi yang dipilih di pinggir laut di Likupang dan Tutuyan Bolsel, Dumagin Bolsel, dimaksudkan untuk mempertahankan budaya dan mata pencaharian warga yang terbiasa bertani dan melaut. Olly menekankan pentingnya relokasi cepat ke Manado untuk memudahkan pendataan pengungsi.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap para pengungsi dapat merasa nyaman dan betah di lokasi baru, sebagaimana mereka di Pulau Ruang, dengan mempertimbangkan kultur dan budaya masyarakat setempat. (asd)













