Example floating
Example floating
BeritaEdukasiEkonomi dan BisnisHeadlineNasionalPemerintahan

Diagnosis Ekonomi Indonesia Disebut Salah, Ini ‘Obat’ yang Ditawarkan Akademisi

167
×

Diagnosis Ekonomi Indonesia Disebut Salah, Ini ‘Obat’ yang Ditawarkan Akademisi

Sebarkan artikel ini

MANADO, MSN
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Frederik G. Worang, SE., BSBA., MCom., PhD, memberikan tanggapan kritis terkait pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) RI Amran Sulaiman mengenai target swasembada pangan akhir tahun serta kinerja Menteri Keuangan (Menkeu) RI Purbaya Yudhi Sadewa.

Worang menyoroti tantangan utama mencapai swasembada pangan adalah ketergantungan pada pupuk impor. Menurutnya, ketersediaan pupuk bagi petani masih langka dan mahal, suatu persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

“Jika ingin swasembada, hal mendasar adalah pupuk karena itu seperti bahan baku utama. Selama kita masih mengimpor pupuk, devisa akan terus keluar dan cadangan dolar berkurang,” ujarnya, Senin (1/12/2025).

Lebih lanjut, Worang mengaitkan kebijakan impor ini dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Ia menjadikan periode kerja Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai contoh, di mana nilai dolar AS telah meningkat dari level saat pelantikan menjadi sekitar Rp16.700.

“Australian Dollar dan Singapore Dollar juga mengalami kenaikan. Ini indikasi bahwa kebijakan fiskal yang ada belum memperbaiki nilai tukar,” tambahnya.

Untuk memperkuat rupiah dan mencapai swasembada, Worang menawarkan solusi berupa pengurangan ketergantungan impor. Langkah strategis yang ia usulkan adalah pembangunan pabrik pupuk dalam negeri dan penyediaan bibit unggul.

“Untuk mengurangi permintaan dolar, kita harus bikin pabrik pupuk. Dengan begitu, produksi beras, jagung, kedelai, tebu, dan komoditas lain bisa ditingkatkan. Jika impor berkurang, tekanan pada dolar akan turun dan rupiah bisa menguat, mungkin kembali ke level Rp15.000,” paparnya.

Ia menegaskan bahwa fokus kebijakan ekonomi seharusnya pada dua hal utama: mengurangi impor komoditas pangan strategis dan menarik investasi. Menurutnya, program seperti “makan siang bergizi” atau “koperasi merah putih” tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan nilai tukar atau Produk Domestik Bruto (PDB).

“Selama diagnosis kebijakan ini salah, dolar akan tetap naik. Yang kita perlukan untuk memperbaiki ekonomi dan nilai tukar adalah mengurangi ketergantungan pada barang-barang impor tersebut,” tegas Worang.

Berdasarkan analisisnya, ia juga meragukan target swasembada beras dapat tercapai pada akhir tahun ini. Pencapaian itu dinilai baru mungkin jika pembangunan pabrik pupuk dan distribusinya yang efektif dapat direalisasikan dalam waktu kurang dari setahun.

“Jadi, kuncinya adalah kurangi impor komoditas pangan ini,” pungkas Frederik G. Worang. (sonny dinar)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *