Example floating
Example floating
Berita

Dari ‘Tabula Rasa’ Hingga Aksi Nyata: Kepala Sekolah Asah Kemampuan di OJT Peningkatan Kompetensi

831
×

Dari ‘Tabula Rasa’ Hingga Aksi Nyata: Kepala Sekolah Asah Kemampuan di OJT Peningkatan Kompetensi

Sebarkan artikel ini

 

 

MANADO, MSN

Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Utara (Sulut) kembali memfasilitasi program Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah (Kepsek) melalui On The Job Training (OJT) Gelombang 3 tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 7 Manado dan dihadiri oleh kepala sekolah se-Kota Manado, dan sekitarnya. Acara pembukaan dihadiri oleh pendamping OJT, Wijiyati dan Hofni J. Timpalen, dari BPMP Sulut, Senin (26/02/2025).

Program OJT ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, dengan fokus pada pengembangan lima aspek utama: kepemimpinan dan manajemen, pengelolaan sekolah, pengembangan kurikulum, pengelolaan sumber daya manusia, dan pengelolaan keuangan. Melalui program ini, kepala sekolah mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari pengalaman lapangan, dibimbing oleh instruktur berpengalaman, serta melakukan praktik langsung di sekolah.

Wijiyati dan Hofni J. Timpalen, selaku pendamping OJT, menyampaikan bahwa pendampingan menjelaskan pola pendampingan yang akan dilakukan, yaitu dengan membagi peserta menjadi dua kelompok.

Pendampingan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang telah dilaksanakan seminggu sebelumnya, di mana para peserta telah menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang harus diimplementasikan.

“Hari ini kami ditugaskan untuk mendampingi bapak dan ibu dalam menindaklanjuti RTL tersebut. Beberapa mungkin sudah selesai, sementara yang lain masih dalam proses. Tidak masalah jika masih menggunakan teori Tabula Rasa, karena dari sana kita bisa meramu ide menjadi judul yang sesuai dengan sub-indikator yang dipilih,” jelas Hofni.

Para peserta juga diingatkan untuk memilih kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan sekolah mereka, seperti pengelolaan emosi, pemberdayaan guru, atau pengembangan kompetensi sosial.

“Jika ada guru yang masih emosional dengan siswa, maka kepala sekolah bisa mengambil tema pengelolaan emosi. Atau jika ada guru potensial yang belum diberdayakan, maka kepala sekolah harus mengambil peran untuk menggerakkan mereka,” tambah Hofni.

Selain itu, program ini juga memberikan kesempatan bagi guru-guru potensial yang belum menjadi kepala sekolah untuk berlatih mengambil peran sebagai “kepala sekolah bayangan”.

“Siapa tahu, kepala sekolah bayangan ini suatu hari nanti bisa menjadi kepala dinas,” ujar Hofni sambil tersenyum.

Dalam kegiatan ini, tim monitoring dan evaluasi (monev) juga hadir untuk memantau kehadiran dan keterlibatan peserta. Kegiatan OJT ini merupakan tahap kedua dalam rangkaian asesmen kepala sekolah, di mana peserta akan mempresentasikan laporan aksi nyata mereka.

“Bapak dan ibu bisa menyampaikan laporan dalam bentuk apa pun, baik itu poster, video, atau paparan langsung. Yang penting, pilihlah pengembangan diri yang sesuai dengan skala prioritas dan pertimbangkan waktu, SDM, serta sarana prasarana yang tersedia,” pesan Hofni.

Program OJT ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi kepala sekolah secara signifikan, sehingga mampu membawa perubahan positif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah masing-masing. Dengan pendekatan yang santai namun serius, para peserta diharapkan dapat mengatasi kendala yang dihadapi dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi pengembangan sekolah. (sonny dinar)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *